Candi Borobudur
Warisan Dunia UNESCO

Sejarah Candi Borobudur:
Keajaiban Dunia

Monumentalitas Buddha Mahayana & Warisan Peradaban Nusantara

4.9 / 5.0 (15.000+ ulasan)
Candi Borobudur

Candi Borobudur, Monumen Buddha Terbesar di Dunia

Candi Borobudur adalah sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Candi ini merupakan candi atau monumen Buddha terbesar di dunia, serta salah satu candi Buddha terbesar di dunia. Monumen ini terdiri dari enam teras berbentuk bujur sangkar yang di atasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha.

Pengertian dan Nama Borobudur

Tidak ada bukti tertulis yang menjelaskan siapa yang memberi nama Borobudur atau artinya. Nama 'Borobudur' mungkin berasal dari kata 'Bara' dan 'Budur'. Bara berarti candi atau biara, dan budur adalah kata yang berkaitan dengan 'Buddha'. Jadi Borobudur berarti Biara Buddha.

Teori lain menyebutkan bahwa nama ini berasal dari dua kata, yaitu "Boro" yang berarti besar dan "Budur" yang berarti Buddha. Sebagian ahli juga mengaitkannya dengan kata "bhumi" (tanah) dan "buddhar" (Buddha).

Sejarah Pembangunan

Candi Borobudur dibangun sekitar tahun 800 Masehi atau abad ke-9. Pembangunan candi ini diperkirakan memakan waktu puluhan tahun hingga selesai secara penuh pada masa pemerintahan Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra.

Dinasti Syailendra

Dinasti Syailendra adalah keluarga kerajaan yang berkuasa di Jawa dari abad ke-8 hingga abad ke-9 M. Mereka adalah penganut Buddha Mahayana yang taat dan memiliki pengaruh besar di kawasan Asia Tenggara. Di bawah pemerintahan mereka, peradaban Jawa mencapai puncak kejayaannya, terutama dalam bidang kesenian dan pembangunan candi.

Pembangunan Dimulai
± 760 M
Pembangunan Selesai
± 825 M
Raja Pemerintah
Samaratungga
Arsitektur
Gupta India & Jawa

Borobudur dibangun tanpa menggunakan semen atau perekat buatan. Batu-batu yang digunakan adalah batu andesit yang dipotong, dibentuk, dan disusun sedemikian rupa sehingga saling mengunci. Teknik ini menunjukkan keahlian tinggi dalam bidang arsitektur dan teknik sipil.

Masa Terlupakan

Setelah kekuasaan Hindu-Buddha di Jawa berakhir dan masuknya Islam, Borobudur mulai ditinggalkan. Letusan gunung berapi dan pergeseran tektonik menyebabkan sebagian struktur candi rusak. Vegetasi tumbuh lebat menutupi candi, membuatnya terkubur oleh abu vulkanik dan tanaman.

Selama berabad-abad, keberadaan candi ini nyaris dilupakan oleh penduduk setempat. Candi ini hanya menjadi cerita rakyat dan legenda, sering dikaitkan dengan kesaktian dan makam kuno.

Penemuan Kembali oleh Raffles

Pada tahun 1814, Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris di Jawa, mendengar cerita tentang reruntuhan candi besar di hutan dekat desa Borobudur. Ia memerintahkan H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk memeriksa dan membersihkan situs tersebut.

"Pada tahun 1814, saya mendengar ada reruntuhan candi yang sangat besar di hutan Boro. Saya memerintahkan untuk membersihkannya dari vegetasi yang menutupinya."
— Sir Stamford Raffles

Cornelius dan 200 pekerja membutuhkan waktu dua bulan untuk menebang pohon dan menggali tanah yang menimbun candi. Meskipun belum sepenuhnya terungkap, penemuan ini mengejutkan dunia internasional dan menandai awal era baru bagi Borobudur.

Proses Restorasi Besar

Restorasi besar-besaran dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan bantuan UNESCO pada tahun 1975-1982. Proyek ini melibatkan para ahli dari berbagai negara dan memakan biaya sekitar 25 juta dollar AS.

  • 1973: Komite internasional dibentuk untuk mengkaji restorasi.
  • 1975: Proyek restorasi dimulai.
  • 1982: Proyek selesai, candi kembali berdiri tegak.
  • 1991: Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.

Pada 2010, Borobudur kembali menjadi sorotan ketika letusan Gunung Merapi menyebabkan abu vulkanik menutupi candi. Tim ahli segera melakukan pembersihan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

Arsitektur dan Struktur

Borobudur memiliki struktur berundak-undak yang terdiri dari sepuluh tingkatan. Enam tingkatan pertama berbentuk bujur sangkar, sedangkan empat tingkatan berikutnya berbentuk lingkaran.

Kamadhatu

4 tingkat terbawah. Melambangkan dunia hawa nafsu (keseronangan duniawi).

Rupadhatu

4 tingkat tengah. Melambangkan dunia rupa atau alam antara.

Arupadhatu

3 tingkat atas. Melambangkan dunia tanpa rupa (Nirwana).

Filosofi Borobudur

Borobudur dibangun sebagai bangunan suci untuk memuja Buddha serta berfungsi sebagai tempat ziarah dan meditasi. Peziarah akan memulai perjalanan dari dasar candi dan berjalan mengelilingi candi secara searah jarum jam untuk mencapai puncak (stupa utama). Setiap putaran dianggap sebagai tahapan dalam mencapai pencerahan.

Relief-relief yang terpahat di dinding candi menceritakan berbagai kisah kehidupan Buddha, termasuk Jataka (kelahiran kembali Buddha) dan Lalitavistara (hidup Buddha). Total ada 2.672 panel relief yang menggambarkan ajaran Buddha dan kehidupan masyarakat Jawa kuno.

Perayaan Waisak

Setiap tahun, Borobudur menjadi pusat perayaan Hari Raya Waisak bagi umat Buddha di Indonesia. Ribuan umat Buddha dari berbagai negara berkumpul untuk melakukan ritual, meditasi, dan penerbitan lilin di sekitar candi. Pada tahun 2023, Borobudur juga menjadi salah satu lokasi pertemuan internasional dan forum dialog lintas agama.

Pertanyaan Umum