
Adonan tepung dilipat tiga kali, diisi kacang hijau yang dihaluskan dengan gula, lalu dipanggang dua tahap di atas tungku kecil. Satu gigitan, dan yang terasa adalah lapisan demi lapisan.
Tahun 1948, seorang Tionghoa bernama Kwik Swan Hoo membuka sebuah panggangan kecil di Gang Pathok — sebuah lorong sempit di kawasan Ngampilan, selatan Kraton Yogyakarta. Ia membuat kue berlapis dengan isian kacang hijau, resep yang dibawa dari kampung halamannya di Fujian, lalu disesuaikan dengan bahan lokal. Kuenya berdiameter kecil, hanya empat sentimeter, dan dipanggang dengan tungku arang di atas cetakan tanah liat datar. Tetangga menyebutnya "bakpia Pathok" — bakpia dari Pathok.
Pada awalnya, Kwik Swan Hoo hanya menjual kepada pelanggan tetap di sekitar gang. Tetapi seiring wisatawan mulai berdatangan ke Yogyakarta pada 1970-an, pesanan meningkat. Keluarganya kemudian membuka toko-toko baru di sepanjang Jalan KS Tubun (nama resmi Gang Pathok saat ini), dan setiap toko diberi nomor — Bakpia Pathok 25, 75, 145, dan seterusnya. Nomor itu bukan tingkat kualitas, melainkan nomor rumah.
Bakpia yang baik tidak terlalu manis. Yang utama adalah lapisan kulitnya — harus terasa tipis, renyah, lalu meleleh di langit-langit.
Yang membedakan Bakpia Pathok dari bakpia kota lain di Indonesia adalah tiga hal: diameter yang kecil (4-5 cm), kulit yang tipis berlapis, dan isian yang tidak terlalu manis. Resep asli Kwik Swan Hoo menggunakan minyak sayur, bukan mentega — karena di iklim tropis Yogyakarta, mentega cepat tengik. Inilah sebabnya Bakpia Pathok dapat bertahan hingga seminggu di suhu ruang.
Resep yang kami tulis di sini adalah versi yang masih digunakan oleh keluarga-keluarga di Gang Pathok hingga hari ini. Tidak ada rahasia — hanya ketelatenan. Tiga kali lipat, dua kali panggang, satu gigitan. Jika Anda berhasil membuatnya, yang Anda pegang adalah sejarah kecil yang telah berjalan tujuh puluh enam tahun.
Bahan dibagi dua: adonan kulit (yang akan dilipat berulang untuk menciptakan lapisan) dan isian kacang hijau. Gunakan kacang hijau kupas — yang sudah dikupas kulit arinya — agar isian berwarna kuning bersih.
Cuci kacang hijau kupas di bawah air mengalir hingga air bilasan bening. Rendam 30 menit. Tiriskan, lalu rebus dengan 100 ml air dan daun pandan selama 30-40 menit dengan api kecil. Tujuannya bukan membuat bubur — tetapi mengempukkan kacang hingga dapat dihancurkan dengan jari tanpa tahanan. Jangan terlalu banyak air; kacang harus tetap padat tapi lembut.
Haluskan kacang hijau rebus selagi masih hangat — dapat menggunakan food processor, blender, atau diulek dengan sendok kayu. Tambahkan 150 g gula pasir dan 1/4 sdt garam. Pindahkan ke wajan anti-lengket, masak dengan api kecil sambil terus diaduk selama 5-7 menit hingga adonan kalis dan dapat dipulung tanpa menempel di tangan. Rasa harus manis tapi tidak menjengkelkan.
Di mangkuk besar, campur 250 g tepung terigu, 50 g gula pasir, dan 1/4 sdt garam. Buat lubang di tengah, tuang 100 ml air suam-suam kuku dan 50 ml minyak goreng. Aduk dengan tangan hingga rata, lalu uleni di atas permukaan datar selama 8-10 menit hingga adonan kalis, mulus, dan tidak menempel di tangan. Tutup dengan kain lembap, istirahatkan 30 menit.
Taburi permukaan dengan sedikit tepung. Giling adonan tipis — sekitar 2 mm — membentuk persegi panjang. Olesi seluruh permukaan dengan minyak goreng menggunakan kuas. Lipat menjadi tiga bagian (seperti melipat surat). Giling kembali tipis, olesi minyak, lipat tiga. Ulangi proses ini total tiga kali. Setelah lipatan ketiga, istirahatkan adonan 15 menit tertutup kain.
Giling adonan berlapis hingga setipis 1.5 mm. Potong persegi 6x6 cm dengan pisau atau pemotong pizza. Ambil sebulat isian kacang hijau seberat 8 gram, letakkan di tengah persegi. Lipat dua segitiga, lalu lipat lagi membentuk segi empat kecil. Tekan perlahan agar rapat. Letakkan dengan sisi lipatan menghadap bawah di atas loyang yang sudah dialasi kertas minyak dan diolesi minyak tipis.
Panaskan oven hingga 160°C. Susun bakpia di loyang dengan jarak 2 cm antara buah. Panggang selama 15 menit. Pada menit ke-15, perhatikan bagian bawah bakpia — harus sudah berwarna keemasan pucat. Jika belum, perpanjang 2-3 menit. Jika sudah terlalu gelap, turunkan suhu ke 150°C. Keluarkan loyang, balik setiap bakpia dengan spatula secara hati-hati.
Setelah dibalik, panggang kembali selama 10-15 menit hingga sisi kedua juga keemasan. Untuk memastikan kematangan, ambil satu bakpia, belah dua — bagian dalam harus berwarna krem matang, tidak pucat seperti adonan mentah. Angkat seluruhnya, pindahkan ke rak kawat untuk pendinginan. Biarkan 20 menit sebelum disajikan — isian kacang hijau perlu waktu untuk mengeras kembali.
Kacang hijau kupas — yang sudah dibuang kulit ari hijau — menghasilkan isian berwarna kuning bersih dan tekstur yang lebih halus. Kacang hijau biasa akan memberi warna coklat kotor dan rasa yang lebih "earthly".
Gula pasir biasa memberi rasa manis yang lebih "kosong" — dalam arti manis tanpa aroma. Gula halus (icing sugar) sering ditambah tepung jagung yang dapat mengubah tekstur isian.
Resep asli Gang Pathok menggunakan minyak sayur, bukan mentega atau butter. Alasannya praktis: di iklim Yogyakarta yang panas, mentega cepat tengik dan mempercepat kadaluwarsa. Minyak membuat bakpia tahan 5-7 hari di suhu ruang.
Jika tergoda untuk mempercepat dengan hanya dua lipatan, tahan diri. Dua lipatan hanya menghasilkan sembilan lapisan — terasa seperti kue biasa. Empat lipatan akan terlalu tipis dan mudah robek saat dibentuk. Tiga lipatan adalah angka emas — 27 lapisan, cukup untuk menciptakan kerenyahan berlapis.
Bakpia Pathok tidak boleh disimpan di kulkas. Suhu dingin akan membuat kulit menyerap kelembapan dan menjadi lembek. Simpan dalam wadah kedap udara di suhu ruang, jauh dari sinar matahari langsung.
Untuk hasil warna yang lebih mengilap seperti di toko-toko Gang Pathok, olesi permukaan bakpia dengan kuning telur kocok sebelum memanggang tahap kedua. Ini opsional — versi klasik rumahan tidak menggunakannya, tetapi memberi penampilan yang lebih "toko".
Bakpia Pathok disajikan paling baik bersama teh tubruk panas atau teh jasmin — tanpa gula. Manisnya bakpia dan pahit-tehnya saling menyeimbangkan. Sajikan tiga sampai lima buah di atas piring kecil, jangan ditumpuk — biarkan tamu melihat sisi berlapis dari potongan pertama. Tradisionalnya, bakpia disajikan sebagai suguhan tamu, bukan sebagai camilan pribadi.

Tiga lipatan, dua tahap panggang, tujuh puluh enam tahun tradisi. Jika lapisan kulitnya tipis dan renyah saat Anda menggigit, Anda telah membuat Bakpia Pathok yang sebenarnya — bukan sekadar kue kacang hijau.