Di balik gemuruh gamelan Sekaten di halaman Masjid Gede Kauman, berdiri tegak sebuah karya kuliner raksasa: Tumpeng Sekaten. Berbeda dengan tumpeng biasa yang melengkung, Tumpeng Sekaten ini memiliki formasi khusus dan berisikan 7 jenis sayuran. Ia bukan sekadar dekorasi, melainkan pusat doa dan simbol kesejahteraan rakyat Yogyakarta dalam rangka menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Asal Usul & Nama Sekaten
Tradisi ini dimulai pada masa Kesultanan Mataram Islam. Kata "Sekaten" berasal dari kata "Syahadatain" (dua kalimat syahadat). Tumpeng ini dibuat sebagai sarana dakwah Islam melalui jalur budaya dan seni pertunjukan (gamelan) untuk menarik minat masyarakat.
Menariknya, Tumpeng Sekaten di Keraton Yogyakarta membedakan antara Gunungan (bentuk persegi panjang untuk Garebeg) dan Tumpeng (bentuk kerucut). Tumpeng Sekaten ini kemudian ditempatkan di halaman Masjid Gede Kauman setelah dikirab dari Keraton.
Filosofi 7 Lapisan Langit (Sapta Loka)
Keunikan Tumpeng Sekaten terletak pada isinya yang terdiri dari 7 jenis sayuran tertentu. Angka 7 dalam kepercayaan Jawa dan Hindu-Buddha kuno melambangkan Sapta Loka atau tujuh lapisan langit, yang merefleksikan kemuliaan dan tingkatan spiritual.
- Bayam (Spinach): Melambangkan daun yang rimbun, melindungi alam dan rasa kasih sayang.
- Wortel (Carrot): Warna merah yang berani, melambangkan keberanian.
- Kacang Panjang (Long Beans): Melambangkan harapan panjang umur dan rezeki yang berkesinambungan.
- Kol/Bunga Kol (Cabbage): Melambangkan kemakmuran dan keterbukaan hati.
- Sayur Peh (Mustard Greens): Tumbuhan yang kuat, melambangkan ketangguhan.
- Tahu & Tempe: Melambangkan sumber protein nabati dan kearifan lokal.
- Bawang & Cabai: Melambangkan pedasnya kehidupan dan rasa syukur yang membara.
Prosesi Pawonan: Kirab dan Pembagian
Sebelum tumpeng ditempatkan di masjid, ia dikirab dari Keraton melalui jalan tertentu. Prosesi pembagian Tumpeng Sekaten disebut Ngiring-iringi Tumpeng atau Pawonan.
1. Upacara Tradisional
Pembagian dipimpin oleh Sultan atau perwakilan beliau (Gusti Kangjeng Pangeran Adipati Anom). Tumpeng dipotong dan dibagikan secara simbolis kepada para tokoh agama, pejabat, dan warga sekitar yang hadir.
2. Simbol Kebersamaan
Nasi tumpeng tersebut dimaknai sebagai berkah yang harus dibagikan. Dalam budaya Jawa, makan bersama dalam porsi besar adalah manifestasi dari guyub rukun (rukun). Rasa nasi kuning yang gurih berpadu dengan aneka sayuran menjadi pelengkap kebersamaan itu.
Makna Kebersamaan & Doa
Tumpeng Sekaten bukanlah gunungan rebutan seperti Garebeg. Ia adalah simbol harmoni. Rakyat diperbolehkan menyaksikan prosesinya, namun pembagiannya dilakukan secara tertib.
Di balik kelezatannya, Tumpeng Sekaten menyiratkan doa masyarakat Yogyakarta agar diberi keselamatan, keberkahan hidup, dan ketenangan jiwa—hal yang melambangkan sifat Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat bagi alam semesta.
Lokasi & Waktu
Tumpeng Sekaten dapat disaksikan selama perayaan Sekaten (sekitar tanggal 5-12 bulan Mulud) di halaman Masjid Gede Kauman, tepat di sebelah utara Alun-alun Utara.
Pertanyaan Umum
Penutup
Menyaksikan Tumpeng Sekaten adalah pengalaman spiritual yang unik. Ia mengingatkan kita bahwa di balik keragaman budaya Jawa, terdapat nilai-nilai Islam yang kuat: syukur, berbagi, dan menjaga silaturahmi. Semangat gotong royong inilah yang membuat Yogyakarta istimewa.