Pagelaran Wayang Kulit dalam upacara Ruwatan Murwakala.
Dalam kehidupan masyarakat Jawa, terkadang seseorang merasa mengalami "kesialan" yang berkepanjangan: usaha selalu gagal, sakit yang tak kunjung sembuh, atau menghadapi rintangan yang aneh. Keadaan ini dalam istilah Jawa disebut Sukerta. Untuk memutus mata rantai kemalangan tersebut, masyarakat Jawa memiliki solusi tradisional yang sakral dan kaya akan filosofi: Ruwatan.
Sejarah & Mitos Bathara Kala
Konsep Ruwatan tidak dapat dilepaskan dari mitologi Bathara Kala. Dalam cerita wayang, Kala adalah raksasa pemakan manusia yang lahir dari mata Dewa Shiva. Ia dikutuk oleh Dewa Wisnu sehingga harus memakan manusia yang mengalami "Sukerta" (nasib sial).
Untuk menyelamatkan diri dari godaan Kala, manusia harus mendekatkan diri kepada Tuhan melalui perantaraan Ruwatan. Tradisi ini sudah ada sejak zaman Majapahit dan berkembang pesat di era Mataram Islam. Di Yogyakarta, Ruwatan sering kali diadakan di Keraton atau desa-desa adat sebagai wujud syukur dan permohonan keselamatan kolektif.
Ruwatan Murwakala
Bentuk Ruwatan yang paling terkenal dan lengkap adalah Ruwatan Murwakala. Ritual ini biasanya dilakukan melalui pagelaran Wayang Kulit semalam suntam. Lakon yang dimainkan adalah kisah perjalanan para Pandawa (khususnya Bima) ke kayangan untuk mencari air kehidupan (Tirta Prawitasari) guna menyelamatkan nyawa ayahnya, Pandu, dari ancaman Kala.
Simbolisme di sini sangat dalam: Kala melambangkan mala petaka atau kematian, sedangkan Bima melambangkan kesabaran, keberanian, dan ketulusan hati manusia dalam berjuang melawan keburukan.
Tata Cara & Prosesi Ruwatan
Sebuah upacara Ruwatan biasanya dipandu oleh seorang Dalang (pimpin upacara) atau sesepuh desa. Berikut adalah rangkaiannya:
- Persiapan Sesaji: Disiapkan berbagai macam bunga, buah, nasi tumpeng, kembang tujuh rupa, dan seekor ayam (kadang-kadang). Sesaji ini melambangkan penghargaan kepada alam dan leluhur.
- Pagelaran Wayang: Pertunjukan wayang dimulai menjelang malam, berlangsung hingga dini hari. Orang yang diruwat biasanya duduk di dekat kelir (layar) atau di tengah arena.
- Puncak Ritual (Tumurak): Pada saat gendingan (lagu) tertentu dimainkan, Dalang akan mengambil rambut orang yang diruwat menggunakan gunting khusus. Rambut tersebut kemudian ditancapkan ke pisau atau keris dan diremas oleh Dalang.
- Pemecahan Telur: Seorang tokoh wayang (biasanya Buta Terong atau Buto Cakil) akan memecahkan telur yang berisi uang logam. Telur yang pecah melambangkan kehancuran segala bentuk kesialan.
- Penyucian (Banyu Perwitasari): Acara ditutup dengan percikan air suci (Banyu Perwitasari) yang telah diberi mantra. Air ini ditebarkan kepada semua yang hadir sebagai tanda pembersihan dan perlindungan.
Tempat Pelaksanaan
Ruwatan sering diadakan di halaman rumah, Desa Wisata Budaya, atau Padepokan Seni di Yogyakarta.
Area Taman Budaya & Keraton
Penutup
Di tengah modernisasi, tradisi Ruwatan tetap bertahan bukan sebagai takhayul, melainkan sebagai bentuk ketenangan batin dan harapan. Bagi masyarakat Jawa, Ruwatan adalah cara menyeimbangkan kembali jiwa raga yang goyah. Apapun keyakinan Anda, menghormati tradisi leluhur adalah bagian dari menjaga kearifan lokal yang luhur.